The Beautiful Minds

Banyak kerjaan memang mengakibatkan munculnya rasa males pake banget buat nulis konten baru πŸ˜‘. Tapi gimana ya, ide-ide yang ada dalam otak, kalau gak dikeluarin rasanya tambah berat aje nih kepala. Jadi untuk melepaskan beban dalam otak ni, dan emang karena gatel juga sih tangan ini kalau lama-lama gak nulis, gue mau bahas tentang pengalaman gue ketemu dengan orang-orang yang bisa gue sebut mereka itu punya beautiful mind, yakni, mereka-mereka yang punya pemikiran unik dan terpancar dari tutur kata mereka yang spontan tapi tulus😊

Gue selalu percaya, bahwa tindak tanduk seseorang, baik dari ucapan atau sikap, itu tergantung pada pemikiran orang itu sendiri dalam memandang kehidupan. Makanya gue berani sebut, mereka yang punya pemikiran unik dan terpancar dari tutur kata mereka yang spontan tapi tulus, merekalah orang-orang yang punya beautiful mind. Siapa dan gimana beautiful mind nya mereka yang gue temuin? ini dia cerita lengkapnya. cekidoott... 

BEAUTIFUL MIND #1
saat sore hari di atas kendaraan roda dua pada 29 September 2019
Hari minggu itu memang gue menyempatkan bertemu, meski pun itu singkat dengan teman-teman seperjuangan masa-masa kuliah. Teman yang bonceng gue, dia sedang meneruskan kuliah jenjang S2 di Universitas Pertahanan (Unhan). Unhan ini memang spesial, letak kampus yang berada di kawasan khusus, sangat kondusif untuk proses pembelajaran, tapi letaknya cukup jauh dari pusat kota. Kalau ngampus di Unhan, kayaknya perlu punya motor. Karena letak asrama dengan kampus pun cukup jauh, apalagi menuju jalan besar ke kota.

Singkat cerita, karena letak Unhan ini memang cukup jauh dengan jalan utama kota, jauh juga dari terminal, jauh dari stasiun, teman gue pun memberikan penawaran untuk anterin gue menuju stasiun terdekat. Gue cek di aplikasi peta, stasiun terdekat adalah Stasiun Bojong. Dari Unhan menuju Stasiun Bojong kurang lebih menghabiskan 30-40 menit dengan motor. Gue awalnya sempat menolak tawaran temen gue, karena jarak tempuh lumayan cukup jauh. Jujur, gue sendiri gak terlalu kuat naik motor lama-lama atau jauh-jauh, kecuali memang gak ada alternatif kendaraan lain/terpaksa.

Gue : "gue naik kendaraan umum aja ya, bisa kok, ke terminal Bogor dulu, abis itu baru naik KRL"
.... : "ee.... jangan Mu, jauh. Udah gapapa, gue aja yang anter. Gue juga sekalian mau ke stasiun, soalnya sekalian mau jemput temen gue balik ke asrama. Udeh, gue aje yang anterin, kan itung-itung lu temenin gue juga dijalan"

Sore-sore agak mendung, ditemani gerimis dan dinginnya kawasan sentul, gue dibonceng teman gue dengan ngebut menuju Stasiun Bojong. Asli, temen gue ngebut banget bawa motornya. Gue selalu deg-degan kalau dibonceng dengan kecepatan tinggi, tapi disisi lain gue juga selalu pasrah. Ya udahlah, percaya sama yang nge-bonceng😁

Selagi menikmati perjalanan yang dingin dan kondisi jalan yang licin, gue sempatkan ngobrol dan nanya temen gue akan satu hal. Karena sebenarnya, gue penasaran, apa alasan dia mau jemput temennya di stasiun dengan jarak yang jauh banget plus kondisi cuaca lagi hujan. Apa sih yang ada dipikiran dia? Kalau gue jadi dia, mungkin gue bakal mikir dua kali, gue bakal saranin temen gue yang mau dijemput itu buat naik kendaraan lain.

Gue : ".. kenapa deh lu mau jemput temen lu ke stasiun? kan jauh tau, kita aja ini jalan 30 menit belom nyampe-nyampe" 
.... : "sebenernya bukan deket atau jauhnya jarak, Mu. Tapi kan kita gak tau, kita bakal menghadapi masalah apa, dan butuh pertolongan siapa. Kita membantu orang dengan ikhlas, orang itu nanti bakal ikhlas nolong kita. Dan dalam hidup, kita pasti butuh pertolongan orang lain. Ketika kita nemu kesempatan untuk nolong orang, kenapa enggak? ya kan? Toh, suatu saat, pasti kita butuh pertolongan mereka"

Gue mengiyakan penjelasan temen gue, ya karena itu ada benarnya juga. Dan sesampainya gue di Stasiun Bojong, gue masih mikir, kok bisa ada orang punya pemikiran kaya begitu ya? Maksudnya, orang yang punya pemikiran kaya gitu, bisa dihitung jari lah ya. Gue sendiri, urusan nolong orang lain yang belum begitu kenal, yaa.. masih mikir kadar kesanggupan dan kemampuan diri. 😁

Sepanjang perjalanan sampai rumah, gue masih mikir, beneran mikir, plus nanya diri sendiri, cara pikir temen gue ini baik, terus kenapa gue gak punya cara berpikir kaya gitu selama ini ya? Dan dari momen itu gue ambil pelajaran, banyak pemikiran dalam diri ini yang masih cacat, yang perlu ambil pelajaran dari berbagai kejadian dan pengalaman hidup lain.

Btw, thanks Herning, buat pelajaran hidupnya πŸ˜‰
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

BEAUTIFUL MIND #2
saat siang hari dengan bisingnya mesin pesawat udara pada 2 Oktober 2019
Kesempatan kedua gue buat terbang ke Labuan Bajo, gue sengaja milih tempat duduk didekat jendela pesawat. Sengaja juga untuk menyedikitkan waktu tidur, biar bisa moto Pulau Moyo dan Pulau Banta dari atas. Rute penerbangan CGK - LBJ memang melewati perairan utara Bali - Lombok dan Sumbawa. Dari atas pesawat, ketika melewati Bali, kita bisa melihat  Gunung Agung (meski dari kejauhan). Melewati Lombok, kita bisa melihat Gili Trawangan. Melewati pertengahan Pulau Sumbawa, kita bisa melihat Teluk Saleh dengan Pulau Moyo nya, mulut Teluk Bima, dan diujung Pulau Sumbawa, kita bisa melihat Pulau Banta dengan pemandangan yang full.
Pulau Banta dilihat dari atas pesawat
cekrak-cekrek pake kamera, tetiba sebelah gue, ibu-ibu melempar senyum. Gue pun membalas senyumnya sambil bertanya, kita pun terlibat dalam percakapan lumayan panjang.
Gue :  "mau liburan, Bu?"
..... : "iya nih, bareng cucu-cucuku, itu tuh" (nunjukin ke arah orang)
(dalam hati, eh, ibunya gaul beut 😁)
Gue : "Asli dari mana Bu?"
..... : "saya ibu-bapak dari Jakarta dan Medan. Kamu dari mana?"
Gue : "saya dari Bekasi, Bu. Ibu berarti tinggal di Jakarta?"
..... : "nggak, saya sekeluarga tinggal di Australia. Saya, anak-anak, cucu-cucu tinggal disana. Saya pindah kesana dari tahun 60"
Gue : "wah, saya belum lahir bu, hehe"

Singkat cerita, dari panjangnya obrolan gue ama si Ibu, dia sempet bercerita bahwa dia udah beberapa kali datang ke Pulau Flores, tepatnya ke Sumba. Dia bilang, dia merasakan perbedaan yang jaaaaauuuhh banget antara kota Jakarta dengan Sumba (dalam hati, ya iyalah, Bu wkwk). Sumba (entah bagian mana, lupa), menurut penuturan dia: gersang, sulit air, dan masih minim fasilitas kesehatan dan pendidikan, kondisi itu yang membuat Ibu ini beberapa kali datang ke Sumba untuk memberikan bantuan untuk masyarakat.

Ketika pesawat melewati perairan utara Pulau Lombok, gue pun memberi isyarat tangan dan memberi tahu si Ibu, bahwa itu Pulau Gili-Trawangan. Si Ibu pun lansung menimpali gue bahwa pada saat gempa Lombok lalu, dia juga turut andil mengumpulkan bantuan dari Australia untuk dikirim ke Lombok. Hampir sekian ton katanya.

Dari obrolan dengan si Ibu, gue bisa ambil kesimpulan bahwa Ibu ini orang berada yang dermawan. Sampai-sampai gue bergumam dalam hati, "wah, ternyata masih ada (banyak) orang sangat berada dan sangat peduli sama masyarakat lokal terbelakang. Jarang-jarang lhooo guys.."
..... : "saya tuh kadang heran. Masyarakat disana itu mereka cukup mandiri lho. Mengembangkan potensi wisata di wilayah mereka sendiri. Tapi kok kaya kurang terperhatikan. Kemana ya dana desa?"
Gue : "hehehe.. menarik Bu topik pembicaraannya" (kita pun ngobrol panjang, ngomongin politik juga wkwk)
..... : "masyarakat sana itu butuh bantuan. Sebenarnya bagus, ketika kita, wisatawan, datang ke sana gak cuma sekedar liburan. Tapi juga kasih sesuatu buat masyarakat. Bawa buku bacaan untuk anak-anak mereka, bawa kacamata plus misal, buat mamak-mamak. Mereka seneng banget lho, meski dengan pemberian sederhana kaya gitu. ternyata bermanfaat buat mereka"

Disaat gue ngobrol ama si Ibu, sebenarnya dalam pikiran terbagi dua pendapat: apa yang dikatakan ama si Ibu, ada benarnya juga sih. Tapi kok kayaknya gak sesimpel itu ya?πŸ˜„. Ya gimana ya, mungkin orang berwisata ke suatu tempat, mikirnya kan otomatis berkontribusi pada kemajuan perekonomian lokal ya? Tapi eitss, kita bisa melakukan hal lebih baik lainnya dari sekedar berpikir kaya gitu. Thanks Ibu Tiur, atas inspirasinya  πŸ˜‰
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

BEAUTIFUL MIND #3
saat pagi hari menyantap sarapan di pesisir Pantai Pede - Labuan Bajo pada 3 Oktober 2019
sambil menikmati kudapan dan pemandangan di belakang restauran hotel, gue melihat beberapa nelayan menambatkan kapalnya ke pesisir. Ada orang lain yang mendekat ke pesisir mendekati salah satu nelayan, kebetulan orang tersebut mengomentari tentang sampah yang ada dipinggir pantai. Orang tersebut dan nelayan satu itu pun terlibat percakapan.

Mendengar uniknya percakapan nelayan dan rang asing itu membicarakan tentang sampah laut, gue pun tertarik buat menghampiri mereka sambil bawa kamera untuk merekam. Lumayan, dapet konten video wkwk. Eee, sebelumnya gue udah minta izin dulu ama bapaknya ya buat rekam.

Si Bapak nelayan yang gue lupa tanya namanya ini terus bercerita tentang asal muasal sampah laut ini terdampar dipinggir pantai, dan gue, terus merekam videonya dia. Wkwk. Setelah dia selesai bicara, gue pun sampaikan terimakasih ke si bapak, terus kita terlibat percakapan singkat tapi bermakna, jleb sih kalau menurut gue.

Gue : "bapak pulang melaut ya Pak?"
..... : "iya nih mba, habis cari ikan"
Gue : "nangkap ikan nya disebelah mana Pak?"
..... :  "didekat Pulau Pungu, Komodo, ya disana-sanalah"
Gue : "pakai perahu kecil itu, Pak? Serius? Aman?"
..... : "ya, kan saya bisa berenang?"
Gue : "kan bulan-bulan ini mau masuk musim barat Pak, arusnya biasanya lumayan kencang lho, resikonya itu lho pak"
..... :  "yaa, semuanya juga ada resikonya, resiko mati mba, mau yang dilaut, mau yang digunung, mba yang dipantai pun, semuanya beresiko mati. Yang penting kita serahkan sama Allah, dan jangan lupa sholat. Ingat itu" (sambil senyum semangat)

Ya ampun... Kadang kita sering banget lupa sama yang namanya mati ya guys? hiks. Gue pas denger kalimat penutup dari si Bapak, langsung jleb banget ke hati sama akal.

Kita sering banget khawatir dan takut akan suatu hal, lupa kalau ada Allah yang akan menjamin keselamatan dunia dan akhirat. Gampang dan simpel banget sebenarnya ya? Hidup tuh tinggal yakin dan inget aja sama Allah, iya nggak? πŸ˜‰

Buat si Bapak nelayan yang lupa kubertanya namanya, thaks a lot ya Pak
perahu paling kecil disebelah kanan perahu hijau adalah perahu milik bapak nelayan tersebut


Comments