#Archipelagolife 3 : Berpetualang Ke Alam Kalwedo! (Part 1)

Kalwedo! begitulah ciri khas penyebutan salam bagi orang-orang di Maluku Barat Daya (MBD). Saya mengetahui salam khas tersebut ketika saya berkesempatan untuk berkunjung ke Pulau Moa. Ngomong-ngomong, dimana sih Pulau Moa itu? Nah, Pulau Moa merupakan salah satu pulau di Kabupaten Maluku Barat Daya yang memiliki potensi sumber daya perikanan yang luarrr biasa. Kalau di lihat peta, Pulau Moa ini lebih dekat dengan negara Timor Leste, karena jaraknya hanya 30 mil laut, sedangkan jarak dari Pulau Moa ke ibukota provinsi nya sendiri, Ambon, jaraknya cukup jauh, yakni lebih dari 200 mil laut.

pemandangan sunset di Pantai Tiakur, Moa
Menurut cerita dari sebagian orang yang pernah berkunjung ke Pulau Moa (terutama rekan kerja di kantor), katanya nih, berkunjung ke Pulau Moa selalu aja ada cerita-cerita drama yang unik. Dimulai dari susahnya sinyal handphone, ketersediaan air bersih di sebagian tempat yang masih minim, transportasi lokal yang langka, matahari yang terik, hingga jadwal pesawat lokal yang tak tentu. 

Cerita-cerita dari rekan-rekan di kantor sebenarnya membuat saya penasaran "beneran se-dramatis itu gak sih, kalau pergi ke Moa?", hingga pada suatu saat ada kesempatan bagi saya ditugaskan kantor untuk pergi ke sana, dalam diri pun masih bertanya-tanya "sanggup gak ya? bakalan betah gak ya?". Tapi, akhirnya kekhawatiran dalam diri itu akhirnya sedikit terminimalisir karena tujuan dan kegiatan yang bakal saya lakukan selama di Moa akan sangat banyak pelajaran dan pengalaman yang didapat. Saya dan beberapa rekan kerja yang berangkat ke Moa ditugaskan untuk mengadakan dan mengikuti pelatihan penangkapan ikan dan penanganan ikan bersama nelayan. Tema kegiatan tersebut membuat saya cukup exited dan sedikit menghiraukan cerita-cerita drama perjalanan ke Moa.

#1 - Drama di Soekarno Hatta (Keberangkatan Menuju Ambon)
Berkunjung ke Pulau Moa, terlebih dahulu kita harus berangkat menuju Ambon. Karena transportasi menuju Moa bisa diakses melalui Ambon. H-1 keberangkatan menuju Ambon, saya dan rekan kerja yang lain terlebih dahulu menyiapkan bahan-bahan pelatihan yang harus kami bawa, diantaranya, spanduk, sertifikat, seminar kit, dan bahan-bahan untuk membuat bahan penunjang yang diperlukan dalam pembuatan alat penangkapan ikan. 

Saya sendiri bertugas untuk membawa spanduk, sertifikat, dan bahan untuk membuat umpan artificial, yakni dempul mobil dan silicon rubber. Bahan dempul mobil dan silicon rubber itu cukup mahal dan mudah terbakar. Maka dari itu, saya pun awalnya sedikit khawatir, apakah bisa lolos pemeriksaan x-ray atau tidak. Dan kekhawatiran saya pun benar adanya, sesampainya di bandara, petugas pemeriksaan x-ray meminta agar saya mengeluarkan isi koper saya. Petugas pun memberikan penjelasan bahwa dempul mobil dan silicon rubber tidak boleh dibawa didalam kabin pesawat penumpang karena sifat bahannya yang mudah terbakar. Sehingga alternatifnya, barang tersebut harus dikirim dengan kargo. 

Dalam hati saya bergumam "waduuh, belum sampai Moa saja sudah ada drama, hiks hiks..". Dan 1,5 jam sebelum keberangkatan, saya masih berpikir harus saya apakan itu barang. Jika harus ke kargo, waktu nya tidak memungkinkan, bila harus di titip diloker bandara pun bayarnya cukup mahal, dan kalaupun dibuang begitu saja, rasanya mubadzir. Akhirnya, setelah bingung cukup lama, saya pun bertanya-tanya kepada satpam bandara terkait kargo, yang pada akhirnya, karena mepet waktu boarding, dempul mobil dan silicon rubber tersebut saya berikan kepada satpam bandara😁. Si Bapak satpam bandara awalnya juga sempat bingung, karena katanya beliau tidak punya mobil, "waduh, gimana ya mba, saya gak punya mobil, lalu dempulnya buat apa ya mba?" wkwkwk.  Namun akhirnya bapak satpam menerimanya dengan senang hati. 😁

#2 - tiket kepulangan dari Moa yang belum pasti
Untuk menuju Pulau Moa sendiri, sebenarnya ada dua alternatif cara. Pertama, kita bisa menggunakan moda transportasi pesawat Trigana rute Ambon - Moa. Perjalanan dari Ambon ke Moa menggunakan pesawat memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Jadwal pesawat tersebut ada setiap hari. Namun dalam kondisi tertentu, seperti cuaca buruk, atau jumlah penumpang sangat sedikit, pesawat tidak ada yang beroperasi ke Moa (batal terbang). Alternatif kedua, untuk menuju ke Pulau Moa dari Ambon, kita bisa menggunakan moda transportasi kapal laut. Akan tetapi, waktu tempuh dari Ambon ke Moa bila menggunakan kapal bisa sampai 24 jam lebih, dan kapal ini tidak setiap hari ada. Kalau tidak salah hanya 1 minggu sekali. Haha, kebayang kan guys kalau naik kapal, gimana rasanya?😁

Oiya, sebelumnya, pelatihan yang akan kami laksanakan di Moa adalah kerja sama dengan UPT kantor yang ada di Ambon. Para instruktur yang akan melatih nelayan ada 3 orang. Mereka membawa bahan-bahan pelatihan yang cukup banyak, dan tidak memungkinkan bila diangkut menggunakan pesawat, mengingat pesawat Ambon - Moa adalah pesawat kecil. Jadinya, keberangkatan ke Moa terbagi 2 Tim. Pertama, Tim Panitia yang berangkat naik pesawat, dan kedua, Tim Pelatih yang berangkat naik kapal. 

Saya dan rekan kerja (Tim Panitia) memutuskan untuk berangkat ke Moa menggunakan pesawat. Kebetulan juga, yang berangkat perempuan semua, yakni Bu Rifka, Mba Shofa, dan saya sendiri. Jadi rasanya tidak mungkin jika kami ciwik-ciwik ini naik kapal Hihi. Nah, tipsnya, kalau pergi ke Moa menggunakan pesawat, maka kita harus memesan tiket jauh-jauh hari. Karena, bila pesan tiketnya cukup mendadak, siap-siap aja gak kebagian tiket. Hehe. Tapi suatu waktu, bisa jadi, meskipun mendadak, mungkin dapat tiket pesawat juga, itupun jika beruntung.😁

Nah, untuk berjaga-jaga tidak kehabisan tiket, kami bertiga pun langsung memesan tiket kepulangan Moa - Ambon secara langsung (melalui kantor Trigana yang ada di Ambon), akan tetapi, pihak maskapai menyampaikan bahwa penerbangan pesawat pada tanggal yang kami maksud belum bisa dibuka jadwalnya. Waduh, drama kedua nih.. πŸ˜…

Ketika tiket pulang belum pasti tersedia, yang dikhawatirkan adalah kami tidak bisa menghubungi pihak Trigana ketika di Moa. Karena keterbatasan sinyal dan sebagainya. Tapi bismillah, kami waktu itu berdo'a dan pasrah kalau memang harus tidak bisa pulang cepat dari Moa. 😁

#3 - Alam Kalwedo yang Epic dan Fotogenik
sekitar pukul 13.30 WIT, akhirnya kami pun sampai di Bandara Jos Orno Imsula. Cuaca di Pulau Moa sangat terik pada saat itu. Memang terasa beda sih panasnya. Tapi setidaknya, panas nya di Pulau Moa lebih menyegarkan dibandingkan panas Kota Jakarta yang sumpek.

Hari itu kami di jemput oleh Pak Nyong dan Mas Surya menuju penginapan dan selanjutnya melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah Kabupaten MBD di Tiakur. Sepanjang perjalanan dari bandara ke Tiakur, pemandangan indah alam kalwedo menyuguhkan langit biru yang bersih dengan semburat awan tipis, kerbau dan sapi yang berkeliaran bebas, ranting kering yang epic, laut yang tenang, dan gunung kerbau yang menjadi icon wisata terkenal di Pulau Moa.

Jujur, ketika melihat alam kalwedo secara langsung dan memang membuat takjub, tangan yang lagi megang kamera jadi gak sabar untuk hunting foto panorama alam Pulau Moa. Rasanya, semua objek akan bagus untuk di potret. Selain itu, buat orang-orang yang sedang dengan foto long exposure, di Pulau Moa, kalau lagi beruntung, bisa dapet foto milkyway lho! Langit malam bersih dan bertaburan bintang bisa melupakan drama-drama perjalanan yang telah terjadi. wkwk

Pokok e, Moa apik tenan wes.. πŸ‘
(bersambung di part berikutnya..)

Pantai Lewketi, Moa
Balai Desa Kaiwatu

Puncak Batu Picah

Kilauan Bintang di langit pantai Tiakur

nelayan di Pantai Tiakur

Mba Shofa, di Gunung Kerbau





Comments