#Archipelagolife 6 : Ngecek Daerah Pariwisata Prioritas

Alhamdulillah, bersyukur sekali di awal tahun 2020 bisa merasakan cuti kerja selama 5 hari, menikmati waktu pertualangan dengan santai dan tidak ada gangguan-gangguan disposisi, ahaayy 😁. Mengapa memilih cuti di awal tahun? yaa, karena agenda-agenda kerja belum sebanyak di bulan-bulan berikutnya. Kebetulan, udah lama pengen banget eksplor sendiri berbagai macam destinasi wisata di Belitong, selain itu mumpung masih awal-awal tahun, masih suasana liburan, plus waktu yang tepat untuk memanfaatkan poin garuda miles yang gak kepake, kan sayang juga kalau hangus. Ternyata menukarkan poin garuda miles saat tahun baru bisa dapet promo hemat hingga 50%, hihihi. Makasii lhoo Garuda Indonesia. 😉

Niat awal sebenarnya mau solo trip aja, eh tapi ternyata, ponakan-ponakan perempuan pada mau ikut, yowes deh sekalian berangkat bersama mereka menghabiskan waktu liburan awal tahun yang masih tersisa. So, kita pun akhirnya berangkat liburan ke Belitong selama 3 hari. 

Jujur, sebelum mau berangkat, sempet merasa bingung sih, gimana travel bareng ponakan-ponakan disana, bakal rempong atau nggak, dan tentunya untuk memudahkan eksplor, pastinya harus sewa mobil, sedangkan gue gak punya kontak kenalan orang terpercaya di Belitong. Diinget-inget, eh sebenarnya di daftar kontak ada kenalan orang Bangka, Pak Yogi Ginanjar namanya. Pak Yogi ini gue tau dari temen sesama alumni gue di kampus, panggilannya Ocid. Si Ocid ini lagi kuliah ambil master di Bogor dan kebetulan seangkatan dengan Pak Yogi. Anyway, singkat cerita, gue tanya-tanya dan minta kontak penyewaan mobil terpercaya ke Pak Yogi. Selain dapat kontak penyewaan mobil, Pak Yogi juga ngasih beberapa saran destinasi yang recommended untuk dikunjungi, dan ternyata sangat berguna sekali info dari beliau. Makasih lhoo Pak. 

Kontak penyewaan mobil yang gue dapat dari Pak Yogi namanya adalah Pak Iril. Pak Iril ini sumpah baik banget sih orangnya, humble, ramah, enak diajak diskusi dan suka ngasih saran. Sempat ketika jam makan siang dan mau nyobain mie kuah khas Belitong, Pak Iril menyarankan tempat makan yang terpercaya dan terjamin halalnya. it's mean a lot sih buat gue, dibanding driver-tour guide yang cuma iya-iya aja tanpa ngasih saran/opsi terbaik. The best lah Pak Iril ini, kapan-kapan kalau ada yang ke Belitong, gue bakal rekomendasiin nomor Pak Iril.👍

Oya, travelling ke Belitong di bulan januari sebenarnya bukan keputusan yang baik, karena bulan tersebut masih termasuk dalam musim barat, dimana kecepatan arus dan tinggi gelombang biasanya cukup signifikan. Kecepatan angin dan intensitas hujan juga lumayan signifikan, apalagi pas awal tahun januari 2020, ibukota dan wilayah sekitarnya lagi kena musibah banjir. Lihat info/berita perkiraan cuaca, udah mulai merasa pasrah, jika memang harus batalin liburan ke Belitong. Tapi alhamdulillah, ternyata seminggu kemudian cuaca mendukung sekali untuk flight.

Setibanya di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Pak Iril langsung menyambut kedatangan kami dengan hangat. Karena pada saat itu kami tiba sekitar pukul 2 siang, pas banget dengan waktu check in, kami pun meminta Pak Iril untuk mengantarkan saja ke hotel di Tanjung Binga-Binga. Saran awal dari Pak Yogi dan Pak Iril, katanya kalau liburan di Belitong lebih enak menginap di daerah kota, dekat pantai, karena bisa sekalian wisata kuliner. Tapi, karena rencana dihari kedua memang gue dan ponakan-ponakan mau ke Tanjung Kelayang sekalian island hopping, so, gue tetap memutuskan untuk menginap di daerah Tanjung Binga-Binga. Selain itu, milih Tanjung Binga-Binga karena memang lagi dapat promo dari Swiss-Belresort Belitung (via Traveloka). Iseng lihat review di google, ternyata view nya bagus banget, ada akses langsung ke pantai dengan ciri khas bebatuan granit. Lumayan kan, bisa buat hunting foto sore-sore dan menikmati sunset. Makasii yaa Traveloka dan Swiss-Belresort. Saking bagus dan nyaman banget servicenya, sampe-sampe gue review bintang lima plus foto di akun Local Guide Google Map. 


Btw, seru lho ternyata jadi local guide itu, karena keuntungannya kita bisa dapet promo-promo gratis dari layanan yang kerjasama sama Google. Selain itu, ketika level local guide kita semakin tinggi, hasil review kita benar-benar diperhatikan lhoo. Gue sempat pengalaman di tahun 2018, nginep di salah satu hotel di daerah Nunukan, Kalimantan Utara. Waktu gue nginep disana, gak tau kenapa service nya benar-benar tidak memuaskan dan gue merasa kecewa. Nah, dihari itu juga, gue kasih review hotel tersebut dengan banyak masukan yang membangun (tidak ada komen yang menjelekkan), hanya banyak masukan. Tapi gue memang cuma kasih bintang tiga saat itu. Cukup kaget ternyata review gue secepat itu direspon. At least, pada malamnya, ada perwakilan dari bagian hotel yang ketuk pintu kamar gue menjelaskan dan menyampaikan maaf atas ketidaknyamanan pelayanan yang kurang baik. Keren sih manajemennya, sangat cepat dan responsif. 

Oya, mari kita teruskan cerita petualangan di Belitong. Berbicara mengenai penginapan, sejauh yang gue temukan di lapangan secara langsung, di Belitong sendiri, terutama daerah deka-dekat Tanjung Kelayang, memang belum begitu banyak hotel populer yang masuk sebagaimana dikota besar lainnya, info tersebut dapat dari ngobrol sama petugas hotel dan juga keterangan dari Pak Iril, memang masih sedikit hotel yang terkenal. Sayang sebenarnya, sebagai salah satu Daerah Pariwisata Prioritas, sebenarnya yang perlu dikembangkan tidak hanya promosi dan amenitas di Tanjung Kelayang nya saja, tapi juga daerah penyangga disekitarnya perlu dikelola dan dikembangkan dengan lebih baik dan meningkat. Untuk amenitas di Tanjung Kelayang sendiri sudah bagus, rumah makan, restoran, toko cenderamata, fasilitas umum seperti toilet umum, tempat ibadah, dan taman sudah tertata rapi. mantul 👍


Seperti yang gue mention sebelumnya diatas, travelling ke Belitong di bulan januari memang bukan pilihan yang terbaik, apalagi buat island hopping. Sumpah, saat itu Tanjung Kelayang cukup sepi pengunjung juga, hanya ada beberapa rombongan wisatawan aja, yang mungkin juga sama nekatnya travelling kaya gue di bulan januari. Sebelum memutuskan untuk island hopping, gue sempat konsultasi ke Pak Ani, salah satu koordinator penyewaan perahu di Tanjung Kelayang, apakah cuaca cukup mendukung untuk menyeberang pulau atau tidak. Sebelum naik perahu, sebenarnya gue agak ragu karena insting gue sebagai anak kelautan ini tiba-tiba berbisik "ini mah arus nya lumayan kenceeng cuy". Sebenarnya gue coba santuy sih, cuman ya gimane bawa bocah-cocah, khawatir mereka teriak-teriak ditengah laut kan, bigamane dah, rempong.


Pas perahu mulai berlabuh 1 mil menuju Pulau Garuda, ombak nya belum kerasa lah ya. Tapi perlahan-lahan melewati Pulau Kelayang, melewati pulau lain entah apa toponiminya, hingga menuju Pulau Lengkuas, waddaww itu lumayan banget ombaknya bikin perahu goyang kenceng. Ponakan-ponakan gue ekpresinya udah mulai panik dah itu, gue sendiri selama pengalaman survey lapang pake perahu gak pernah ngerasa naik perahu segoyang dahsyat kebanting-banting kaya gitu. wakakak😁. Anehnya si bapak yang bawa perahu santuy aja acungin jempol, senyum-senyum sambil bilang amaan kok, tenang. 

Setelah perdrama-an ombak, akhirnya gue dan ponakans nyampe juga di Pulau Lengkuas. Btw kalau dari internet nyari sejarah tentang Pulau Lengkuas, katanya sebutan lengkuas adalah plesetan dari lighthouse, karena emang disitu ada mercusuar yang dibangun dari jaman Belanda. Dulu, Pulau Belitung memang sudah menjadi pulau dengan lalu lintas perdagangan yang ramai plus jadi tempat singgahnya beberapa kaum pedagang. Makanya dibangun mercusuar buat mengawasi lalu lalang kapal dagang.


Kita saat itu gak lama-lama di Pulau Lengkuas, pengennya buru-buru balik aja ke Tanjung Kelayang, gak tertarik buat snorkling juga karena arusnya cukup deres. Hamdalah kalau jalan balik ke Tanjung Kelayang ombak nya gak separah pas berangkat, meskipun sama-sama masih goyang juga tuh perahu. haha. Kalau dipikir ulang memorinya, kocak kejadiannya.😁

Sehari setelah island hopping. Besoknya gue meneruskan eksplor Belitong dan destinasi wisata lainnya. Ada beberapa yang gue kunjungi, diantaranya Tanjung Tinggi (Laskar Pelangi site), Danau Kaolin, Gosong Bugis, tempat wisata kuliner di kota, dan terakhir ke tempat oleh-oleh. Awalnya gue mau memutuskan ke Belitung Timur untuk mengunjungi Museum Kata dan Laskar Pelangi site lainnya. Tapi saat itu, saran Pak Iril, katanya secara waktu gak cukup, dan kata beliau sebenarnya di Belitung Timur paling foto-foto aja sih. Gak terlalu istimewa-istimewa amat. Jadi, daripada capek dijalan, mending fokus keliling ke destinasi wisata di Belitong. 



Anyway, segitu aja cerita petualang di Belitong nya yaa. Banyak info menarik lainnya yang gue dapet dari diskusi dengan masyarakat di Tanjung Kelayang sebenarnya. Tapi gak bisa gue jabarin disini. Lain kali akan di lengkapi kalau ke Belitong lagi yaa.. Kayaknya di lain waktu, emang gue harus ke Belitong lagi dengan kondisi musim yang tepat, wkwk. 😁

Comments