MENANGGAPI SARAN/MASUKAN (25)

bulan desember 2020 kemarin, resmi genap seperempat abad Haha. Ada yang bilang umur segitu udah tepat untuk berkeluarga, ada yang bilang masih muda, cari pengalaman dulu lebih banyak, ada yang bilang saatnya memulai kesempatan berbisnis, ada yang bilang mending lanjutin sekolah lagi, dan lain-lain, dan lain-lain.

hmm.. btw terimakasih saran dan masukannya ya gaes. Saran diterima, tapi rumusan tetap. Lho kok? Haha, ngga deng bercanda.😄

kadang gue heran harus menanggapi saran-saran orang-orang dengan jawaban apa, selain Senyum (bahagia), sambil bilang iya, insyaAllah, do'akan aja ya..  Yaa, gak mungkin juga gue jawab panjang lebar tentang target dan visi misi hidup 5-10 tahun kedepan. Gak mungkin to, wkwk😁. Dan sebenarnya gak ditanggapi juga its okay sih. Cuman ya jadi bahan pikiran juga akhirnya, haha. Eh, tapi lumayan, bisa buat konten tulisan juga 😁

TENTANG KULIAH : (Ayo Mu, S2) - (Dek daftar beasiswa aja deh, banyak tau) - (Mu, ini ada info beasiswa, ayo daftar) - (Katanya mau S2, kok ngga ndang daftar) - (Ummu ada rencana mau lanjut kuliah lagi gak sih?) - (Udah lah Mu, sekolah lagi aja ih, mumpung masih muda) -- dan lain semisalnya. 

Banyak banget yang menyarankan ini, ya keluarga, ya rekan kerja, bos sendiri di kantor, dan teman-teman lain yang bahkan baru kenal. Makasih semuanya atas masukan dan dorongan semangatnya. Belajar hal baru dan menambah ilmu adalah hal yang saaangaat gue suka. Cuman untuk lanjut jenjang S2 ini keinginannya memang naik surut, entah😀. Keinginan lanjut S2 menjadi naik ketika sadar masih banyak passion yang harus didalami, ada ilmu lain yang harus gue tambah, dll. Tapi keinginan lanjut S2 pun surut kembali ketika menyadari kalau ilmu S1 aja belum sepenuhnya bisa diaplikasikan dan dipertanggungjawabkan. Karena pada intinya, sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat untuk orang lain. Yaa, bisa aja sih memang, daftar kuliah S2, tapi itu akan terjadi ketika gue udah make sure niatnya memang lurus dan tulus, yakni menambah ilmu untuk semakin bermanfaat buat orang. Bukan hanya sekedar nambah kegiatan/kesibukan, menambah titel dan pengalaman, atau nambah keren buat meyakinkan orang bahwa gue ahli di bidang tertentu. Bukan itu. Semua kembali lagi pada kaidah (yailah pake kaidah segala😁), ketika kita memilih/memutuskan sesuatu yang hal itu tidak menambah nilai dalam hidup (bukan materi lo ya), tidak kita yakini dan jalani dengan sepenuh hati, tidak bisa mengambil tanggungjawab setelahnya, maka sesuatu pilihan itu perlu dirancang ulang lebih matang. Dan tentang kuliah lagi, adalah hal yang harus gue pikirkan benar-benar matang😉

TENTANG MENIKAH : (Buruan cari orang, nikah Mu) - (Kamu target nikah nya kapan sih dek?) - (Minta biodata kamu dong, mau tak kenalin) - (Semoga segera dipertemukan dengan orang yang tepat ya Mu) - (Jangan lupa kalau abis sholat do'a minta jodohnya di kencengin) - (Dek, inget udah mau 25!) - (Sabar aja, nanti pas waktunya tepat, dateng juga kok) - (Emang di circle pertemanan dan tempat kerja gak ada orang yang kamu suka apa?) - (Eh Mu, gue jodohin ama orang mau gak?) -- dan lain-lain, masih banyak. 

Gaes, makasih banyak do'a dan komentar yang sangat membangun itu. Honestly, kalimat yang selama ini gue terima adalah kalimat-kalimat yang sering gue lontarin ke diri sendiri. Selftalk. And I wanna say,, dalam perspektif gue, menikah itu bukan pilihan yang kita ambil karena diburu-buru, atau karena baper. Menikah ya niatnya harus pure karena ibadah, niatnya lurus, dan yang terpenting menikah dengan persiapan. Ketika kita udah menemukan seseorang yang click, more better kita bertemu dengan orang itu dengan siap. Lhoo emang harus 100% siap, baru menikah, gitu?. Ya, nggak gitu juga😄. Siap disini dalam arti siap secara materi dan siap secara moral, siap menerima tanggungjawab dan peran yang bertambah, siap menjadi lebih bijaksana menerima kekurangan, memaafkan, berbagi peran, menyatukan misi hidup bersama dengan kesepakatan yang saling terbuka satu sama lain, mempersiapkan konsep berkeluarga tuh mau kaya gimana. Kalau belum banyak siapnya, ya setidaknya banyak belajar untuk bagaimana bisa siap. Pokoknya banyak belajar😊. 

Nah, visi misi hidup berkeluarga, alias konsep berumah tangga, menurut gue adalah hal yang paling penting. So, buat yang mau ngenalin gue, plis sekilas tanyakan orangnya udah punya konsep/visi misi berkeluarga apa belom. Kalau belom, suruh buat dulu yaa, 😁Hahaha. Ya intinya, visioner dulu, baru bicara detail personality. Oya, visioner dunia akhirat tapi ya 😊

---------------------------------------------------------------------------------------

Sebenarnya banyak saran/masukan lainnya, tapi yang intens yaa hanya dua hal itu aja. Bisa jadi pada diri muda-mudi lainnya yang menginjak fase (katanya) life quarter crisis ini menghadapi dan menerima saran/masukan yang persis. Hehe

Untuk semuanya, siapapun, atas saran, kritik dan masukan yang membangun, kuucapkan banyak-banyak terimakasih. Reminder dari kalian adalah bentuk kebaikan dan salah satu nikmat besar Tuhan yang taktau harus kubalas dengan apa selain semoga kebaikan menjadi balasan yang Allah selalu limpahkan pada kalian, dan kita semua 😊

Terimakasih Ya Allah, atas kesempatan, kemudahan, dan keberkahan dalam melewati Tahun 2020 kemarin yang penuh dengan ujian dan melatih kesabaran. Bismillah 2021, siap dilalui dan dijalani dengan bertambahnya peran baru, uhuyy!😁

Comments