MEANINGLESS BENEFITS

Dalam mengarungi setiap episode hidup ini, aku berusaha untuk senantiasa tidak lupa menyampaikan harap pada-Nya: jika aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang baru atau berkesempatan mengunjungi tempat baru, maka perkenankan aku untuk mengambil hikmah dan pelajaran hidup darinya. Maha baik Allah, harapanku akan hal itu selalu terkabul. Ketika aku ketemu orang baru atau mendatangi tempat baru, aku pasti dapat sesuatu, pelajaran hidup maksudnya..😁hehe. Jadi, aku suka curious dan excited gitu kalau mau ketemu orang atau pergi ke suatu tempat, because I'm sure I'll get something out of it. 

Nah, kali ini aku ingin cerita tentang hikmah perjalanan singkatku bersama rekan-rekanku yang baik dari Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Ujung Lero, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan. 

Pada awal Juni bulan lalu, aku diberi kesempatan untuk meninjau lokasi di Provinsi Sulawesi Selatan untuk melaksanakan salah satu program kerja kantorku. Salah satu lokasi yang ditinjau pada kesempatan itu adalah PPI Ujung Lero yang berada di Kabupaten Pinrang. Orang-orang yang tergabung dalam kegiatan peninjauan lokasi ke Pinrang selain aku adalah Mba Rifka, Mba Ela, Pak Ical, Pak Nandar, Mas Hendra, Mas Rizal, Mas Dalvi, Kak Tenri, dll. 

Kami semua berbagi tugas. Pak Ical, Pak Nandar, Mba Rifka dan lainnya bertugas untuk koordinasi ke instansi, aku bertugas untuk melakukan tagging koordinat reklamasi dan garis pantai serta mendokumentasikan kondisi di lokasi, Mas Hendra dan Mas Dalvi bertugas untuk meninjau lokasi serta wawancara dengan warga lokal, dan Mas Rizal bertugas untuk melakukan drone mapping. Aku pun sebenarnya melakukan wawancara singkat juga dengan warga lokal meski sedikit agak roaming sih dengan aksen mereka, tapi pada akhirnya bisa aku pahami karena Mas Dalvi dan Mas Hendra membantu untuk mengartikan.

Detail lokasi PPI Ujung Lero ini letaknya ada di Desa Wiringtasi, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang. Apabila kita melihat pada google map, PPI Ujung Lero ini terletak di sebelah barat daya Teluk Parepare. Dilihat dari akses laut, sebenarnya PPI Ujung Lero ini lebih dekat dari mulut teluk, namun bila ditinjau dari aspek akses darat, PPI ini cukup jauh dari pusat Kota Parepare. 

Ditinjau dari aspek fasilitas atau sarana, PPI Ujung Lero ini cukup lengkap, ada Single Cold Storage, Pabriks Es, Kantin Nelayan, TPI, Kedai Nelayan, Gedung perbaikan Jaring, bahkan Kantor TPI. Namun, nelayan sekitar ternyata tidak banyak yang melakukan pendaratan ikan di PPI tersebut. bahkan cenderung tidak ada. Ada beberapa hal dan pertimbangan yang menjadikan fasilitas di PPI ini tidak begitu dirasakan manfaatnya oleh nelayan dan masyarakat sekitar. 

Sesaat setelah keliling melihat-lihat bangunan-bangunan di PPI, mengambil foto, dan melakukan tagging koordinat ujung-ujung lokasi reklamasi PPI Ujung Lero, aku berdiri menikmati angin sambil bergumam dalam hati "sayang banget ini  tempat, harusnya bisa lebih bermanfaat tapi keberadaannya ternyata gak berarti". Setelah bergumam dalam hati, gak tau kenapa memori langsung teringat dengan sebuah obrolan singkat sama Ibu. Gak tau kenapa tiba-tiba pikiranku travelling, flashback langsung ke obrolan ini:

Aku : Ma, jadi bermanfaat itu ternyata capek ya?

Mama : lhoo, kok gitu?

Aku : yaa, adek seneng banget sih kalau punya potensi yang bisa bantu orang lain, tapi kalau lama-lama banyak yang ngandelin, capek juga ternyata ngeladeninnya Ma

Mama : ya, kalau capek, semua juga ngerasain capek, dek. Tapi harus tetap bersyukur, justru diluar sana banyak orang yang masih bingung lho bisa bermanfaat ke orang lain dengan cara apa

Ya, itu obrolanku sama Ibu di tahun lalu. Ketika aku sedikit berkeluh tentang hal yang aku hadapi. Sejujurnya, I love people. And I would love to help them, whoever they are. But one time, when their hands needed mine at the same time. It's like, I wanna say to God : Ya Rabb, aku capek...

Memang rasanya satisfying gitu ketika ngeliat orang seneng karena terbantu. Aku senang ketika bisa share pengalaman dan informasi yang aku minati, pemetaan bidang kelautan contohnya, so that's why aku bikin platform lain terkait tutorial pemetaan, dan akhirnya banyak yang merespon baik, bahkan banyak yang mengirimkan email untuk bertanya dan berdiskusi terkait topik pemetaan bidang kelautan yang diperlukan dalam penelitian skripsi atau tesis. Banyak juga yang pada akhirnya meminta data, meminta bantuan untuk dibuatkan peta, bahkan ada yang minta bantuan secara profesional untuk menyelesaikan penelitian, dengan dibayar. Lama-lama semakin banyak, dann.. aaaa... guys could you stop for a moment to contact me? 

Sebenarnya, ada beberapa contoh lain yang pada saat itu aku merasa capek ngeladenin orang lain. ketika dalam waktu yang bersamaan, aku menghadapi hal: 

Ummu, boleh tolong bantuannya untuk...

Mu, bisa gak kirimkan aku data tentang....

Nanti tolong dibuatkan ini ya Mu,...

Ummu Please,,, bantu aku buat ini yaa...

Saking lelahnya nanggepin orang-orang itu, aku sempat terpikir untuk slow bahkan idak merespon beberapa waktu, berusaha mendiamkan, membatasi komunikasi, namun pada akhirnya hati gak enak, dan merasa menyesal : kok gue gini sih.. ? Yuk ah, balik lagi seperti semula, Mu.

Yah, begitulah. haha. Random banget yak tulisan di episode ini. Maafkeun gaes. 😁. 

Setelah dipikirkan dengan rileks, konsep khoirunnas an fauhum linnas itu memang bener kok. Dan untuk mencapai hal itu emang harus mau lelah karena lillah sih. Hehe. Tuhan udah menganugerahkan kepada masing-masing kita potensi dan kelebihan yang berbeda-beda, yang bisa bermanfaat untuk sesama. 

Ketika potensi dan kelebihan yang kita punya bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain, yak berarti diri kita memang berguna untuk manusia yang lainnya. Berfaedah. Namun ketika kita membatasi diri untuk berbagi, berhenti berbagi karena capek, diri kita hanya akan memiliki kebermanfaatan yang sia-sia. Buat apa kan?

PPI Ujung Lero mengajarkan aku satu hal penting : jangan sampai kita berada, namun tak berarti apa-apa.

Mari terus menebar manfa'at, membantu dengan hati yang lapang, dan berlelah-lelah lah karena lillah. Seperti kutipan pesan dari Imam Syafi'i : Berlelah-lelahlah, manisnya hidup baru terasa setelah lelah berjuang 😊

satu-satunya kapal nelayan yang bersandar di PPI Ujung Lero. salfok dengan tulisan di kapal "berawal dari do'a"

PPI Ujung Lero yang sepi (drone photo keren ini aku minta dari Tim Dit. PRL)

Comments