Pertemuan Tiba-Tiba

Setidaknya, ada dua hal yang membuat manusia secara alami mempertahankan sesuatu. Pertama, karena kenyamanan, dan yang kedua karena kepentingan. Mungkin ada banyak hal lainnya selain dari itu, namun dua hal ini yang sementara aku simpulkan setelah berbincang santai di tepi pantai Tanjung Pendam bersama kawanku semasa kuliah yang hampir 5 tahun tak jumpa.

Kami sebenarnya berada dalam naungan satu instansi yang sama. Namun, perbedaan tempat yang cukup jauh, menyebabkan kita belum pernah bertemu, ya karena kami disibukkan dengan amanah masing-masing juga, sehingga belum sengaja menyempatkan waktu untuk bertemu. Aku di Jakarta, sementara kawanku berada di Tanjung Pandan. 

Qadarullah, tetiba aku mendapat arahan untuk tugas luar, bisa dibilang hal itu pun sebagai tugas yang agak mendadak. Aslinya gak ada semangat sekali untuk berangkat kesana, seriously, if at that time I could say no, I would say it out loud: tugas yang mendadak, tidak terlalu berhubungan erat dengan bidang tanggungjawabku, tiket maskapai yang terbatas serta jumlah penginapan yang tidak banyak. Namun setelah mengingat kesempatan yakni bisa sekaligus meet up  sama kawan, jadinya excited deh. Ya, memilih bertahan karena kepentingan. hehe

Puji syukur pada-Nya, entah kenapa dan bagaimana, seringkali, bahkan selalu, skenario-Nya yang selalu baik dan epic membuatku amaze dengan setiap episode hidup yang kujalani. Tidak pernah terencana untuk menjalin silaturahmi dengan kawanku dalam waktu dekat, tapi Maha Baik Allah yang telah mengatur rencana dan waktu, hingga aku dan kawanku bisa berbincang cukup lama, saling bertukar pikiran, cerita dan berbagi semangat satu sama lain. Banyak pelajaran dan hikmah yang aku dapatkan dari kawanku, banyaak banget, yang gak bisa disebutin satu persatu disini, Hehe. Allah secara tidak langsung menegur dan mengingatkanku untuk menambah syukur, bersyukur, dan bersyukur. 

Selain bisa ngobrol cerita-cerita, asyiknya kita bisa sempetin gowes bareng sampe Tanjung Pendam. Kawanku bilang, elevasi di Tanjung Pandan emang agak beda, mungkin jalan terlihat datar, tapi gowes akan berat terasa. Dan emang bener sih, kaki pas pulang terasa rungkad ya waak. 😁. Abis gowes dan perut keroncongan, kita sempetin ngopi santuy dan nye-nack (makan snack) di Kong Djie Coffee. Eh, tanpa disangka, pas lagi ngobrol-ngobrol, pimpinan kerja gue ada disitu, ngopi dan nye-nack juga..🙈

Terimakasih semesta atas keindahanmu yang menenangkan, dan terimakasih kawan atas pengalaman yang tidak terlupakan. Biar gak lupa, makanya aku tulis dimari, Hehe. Jujur, i'm such a very proud friend of you, Di. If one day I meet your Dad, I will say to him: Sir, you're one of the lucky parents to have a strong daughter like Dian. 

Makasih Dian Ramaniya buat waktunya. Semoga Allah menjagamu dimanpun berada, dan semoga kita bertemu dikesempatan berikutnya dengan cerita yang berbeda. 😊

terjepret hanya satu, karena sepeda kawanku nyender dipohon 😁


Comments