#Archipelagolife 5 : Ta'aruf dan Dapet Marga dari Orang Moa? (Petualangan di Alam Kalwedo Part 2)

Hari pertama datang ke Moa sejujurnya cukup takjub dengan keindahan alam dan suasananya. Berasa kayak di Afrika gitu, haha😁, padahal aku belom pernah ke Afrika juga sih. Cuaca panas dan terik tapi gak tau kenapa enak aja udaranya, bersiiiih banget. Gak seperti Jakarta yang panas nya sumpek.


di Moa, sapi dan kerbau dibiarkan lepas mencari makanan secara mandiri 
Dan di hari kedua di Moa, gak tau kenapa bangun shubuh tuh rasanya segeer banget. Padahal hari sebelumnya, bisa dibilang cukup melelahkan. Karena pas tiba di Moa, kami langsung keliling dinas untuk berkoordinasi dan juga pergi ke balai Desa Kaiwatu untuk menyiapkan ruang pelatihan bersama nelayan. Mungkin karena di hari kedua ini adalah hari pembukaan pelatihan bagi nelayan, aku pun bangun dengan penuh exited, melupakan lelah dan kantuk.

Selesai sarapan seadanya di hotel, kami pun langsung berangkat ke balai Desa Kaiwatu bersama para pelatih yang katanya tiba di Moa tengah malam. Para pelatih dari Ambon diantaranya ada Pak Indra, Pak Anton, dan Pak Helmy. Sampai di balai Desa Kaiwatu, kami menunggu beberapa saat para nelayan, karena sebagian besar mereka masih belum pulang melaut. Setelah menunggu sekitar satu jam, nelayan mulai banyak berdatangan, mereka mengenakan baju rapi, sebagian ada yang menggunakan sepatu resmi, sangat memperlihatkan antusiasme yang tinggi untuk mengikuti pelatihan.

Btw, pelatihan yang kami selenggarakan untuk nelayan adalah pelatihan penangkapan ikan dan penanganan ikan di kapal. Aku yakin, untuk nelayan Moa, mereka sudah teramat mahir dalam melakukan praktik penangkapan ikan, toh profesi mereka sebagai nelayan kan. Tapi meski demikian, mereka tetap sangat antusias mengikuti pelatihan yang kami selenggarakan.

Sebelum pelatihan dihari pertama resmi dibuka, aku menyempatkan untuk mengambil beberapa video wawancara dengan perwakilan nelayan Moa. Salah satu nelayan yang aku wawancarai namanya Samuel Pooroe. Aku memanggilnya Om Sam. Beliau adalah nelayan paling senior di Desa Kaiwatu. Pendapatan beliau sebagai nelayan di Moa diperkirakan bisa mencapai maksimal 12-20 juta perbulan. Waaw, aku pun sangat terkejut mendengarnya sodara-sodara haha. Lebih gede pendapatan Om Sam dibanding gaji pokok gue sebulan. Wkwk. Om Sam ini nelayan cerdas, terlihat dari cara beliau menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sangat terstruktur dan berisi. Sesuai dengan yang diharapkan olehku sebagai content creator.

Samuel Pooroe, nelayan senior dan sukses di Moa
Pelatihan pun resmi dibuka oleh Pak Izak. Beliau adalah pejabat fungsional dari Ditjen Perikanan Tangkap yang sama-sama bersama kami berangkat ke Moa. Kebetulan beliau adalah orang asli Moa. Disela pidato singkat pembukaan, Pak Izak meminta kami (para panitia) untuk maju ke depan untuk memperkenalkan diri. (dalam hati) waduh, dikerjain nih sama Pak Izak. Aku sebagai orang yang seringnya dibelakang layar, sebenarnya agak kikuk juga kalau harus berbicara dengan orang baru, diforum cukup serius, mana bapak-bapak semua lagi. Apalagi Pak Izak meminta harus menyebutkan status lagi, wadaww ketahuan jomblonyaa nih jadinya wkwk. Saat bilang dengan malu-malu tentang kejombloan yang bahagia ini, bapak-bapak nelayan tetiba riuh dan senyum tertawa. (pada kenape nih bapak-bapak? Semangat amat kaya liat calon mantu. Hahaha). 😆 Oh ya, selain dibuka oleh Pak Izak, pelatihan ini juga turut dibuka oleh sambutan dari Kepala Dinas Perikanan Kab. Maluku Barat Daya, Pak Djecky namanya.

Momen dikerjain Pak Izak untuk perkenalan diri
sambutan oleh Pak Djecky, Kepala Dinas Perikanan Kab. Maluku Barat Daya
Selesai pembukaan acara, para pelatih memulai menjelaskan materi pelatihan dan memperkenalkan peralatan serta bahan yang akan dibagikan kepada nelayan. Para nelayan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memudahkan. Dihari pertama, materi yang diajarkan oleh para pelatih adalah merakit alat pancing tonda, pancing ulur dan umpan metajik artificial. Para nelayan mengikuti pelatihan dihari pertama dengan antusias dan tertib. Mereka pastinya tiap hari sudah hafal dengan alat kerja mereka, tapi dalam pelatihan ini, mereka seolah-olah ingin belajar dari nol lagi. Jujur, sangat terharu aku melihatnya, Begitu sangat respek mereka dengan kehadiran kami.
Pak Indra dan Pak Helmy memperkenalkan alat dan bahan yang akan digunakan selama pelatihan berlangsung
Pak Anton, ketika menjelaskan materi kepda nelayan bagaimana cara membuat umpan metajik artificial
Pelatihan setiap harinya diselesaikan sebelum ashar, karena sorenya nelayan harus kembali melaut menangkap ikan. Selesai pelatihan dihari pertama, kami menyempatkan untuk berkujung ke pantai Tiakur, meninjau lokasi yang akan dibangun untuk Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu Moa. Menikmati sunset pantai Tiakur dengan pemandangan Pulau Letti diseberang. tjakepp banget! 💖

sunset di Tiakur
Pelatihan hari kedua adalah meneruskan pembuatan umpan metajik dan dipaparkan materi bagaimana melakukan penanganan ikan di kapal. Pada sore hari, kami akan ikut serta dengan nelayan untuk praktik menangkap ikan di kapal serta praktik penanganannya. Pada saat praktik menangkap ikan, aku berkesempatan untuk ikut di kapal Om Aris, beliau adalah nealyan sukses Moa seperti halnya Om Sam.

di dermaga Kaiwatu, persiapan  berangkat untuk praktik menangkap ikan tuna
Kami pun berangkat dengan masing-masing kapal nelayan dari dermaga Pelabuhan Kaiwatu. Di Moa, menangkap ikan tuna sebenarnya tidak terlalu jauh dari daratan, hanya sekitar 2-3 mil laut, kita sudah dapat bertemu dengan tuna, karena memang area fishing ground nya sangat dekat dan potensinya pun melimpah. Selama di kapal dan mempraktikan bagaimana cara menangkap ikan tuna, Om Aris menjelaskan detail cara penangkapan ikan. Aku seperti flashback kembali pada mata kuliah metode penangkapan ikan saat kuliah dulu.

Memancing ikan benar-benar membutuhkan kesabaran yang ekstra. Kalau kata Om Aris, kita harus mengetahui timing kapan si tuna bermain dan mencari makan. Dan apa yang dikatakan oleh Om Aris benar, 45 menit ketika menebar pancing ulur, si tuna belum terlihat karena belum waktunya makan. Namun setelah tiba waktunya, mereka benar-benar memunculkan diri, loncat-loncat ke atas perairan, dan jumlahnya banyaakk banget! Si gue yang udik ini melihat tuna loncat-loncat, langsung rekam buanyak banget video hahaha😁

mancing ikan hingga sore
Tuna yang Om Aris dapatkan kalau menurutku gede banget sih, hampir setinggi badanku. Tapi kata Om Aris ada yang lebih besar dari itu. Makanya setelah dari Moa, di hari terakhir, para nelayan memberiku panggilan baby tuna, wkwk. Karena saking kecilnya gue dan kalah gede ama tuna-tuna Moa. 😆. Selesai praktik nangkap ikan tuna, malamnya, kami bersama nelayan memasak dan makan ikan yang sudah didapat dari memancing. mantaf!

Hari terakhir pelatihan bersama nelayan, pelatih memberikan materi tentang bagaimana mengatur keuangan dan bisnis penangkapan ikan. Istilahnya, bagaimana nelayan bisa save money dari hasil penjualan ikan yang mereka dapatkan. Rencananya, pelatihan akan ditutup sekitar jam 2 siang, karena para pelatih harus sholat jum'at terlebih dahulu, sedangkan materi belum selesai disampaikan. Aku dan mba shofa menunggu di Balai Desa Kaiwatu, sambil menunggu para pelatih selesai sholat, aku dan mba shofa makan siang bersama di Balai Desa dengan para nelayan. Para nelayan di Moa hampir semua adalah kristiani, mereka dengan sabar menunggu para pelatih pulang sholat jum'at.

Saat makan siang, kebetulan aku dan mba shofa sempat berbincang dengan Om Sam. Om Sam sendiri antusias banget ketika ngobrol, apalagi disaat dia tahu kalau aku orang sunda. Berdasarkan penuturan ceritanya, bapaknya Om Sam adalah orang pertama di Moa yang berhasil keluar dari Pulau Moa untuk menuntut ilmu di jenjang perguruan tinggi di Bogor. Saking lamanya di Bogor, bapaknya Om Sam fasih sekali berbicara bahasa Sunda. Om Sam pada saat itu menawarkan untuk mempertemukanku dengan bapaknya Om Sam. Biar dikenalin katanya. Haha. Selain menceritakan bapaknya, Om Sam juga menceritakan detail tentang keluarganya, dari mulai kakaknya, adiknya, anak-anaknya, saudaranya, kerabat jauhnya, lengkap dengan posisi dan profesi mereka masing-masing. Termasuk cerita kalau artis Karen Pooroe adalah sepupunya. Om Sam benar-benar menceritakan lengkap. Ibaratnya, itu udah kaya ta'aruf keluarga wkwk. Dia pun menyampaikan celoteh lucu "sayangnya, anak laki-laki saya sudah menikah semua mba, kalau tidak, mba ummu ini bisa dapat marga Pooroe haha. Jadi namanya Ummu Kultsum Pooroe. hahahaha". Kami pun tertawa bersama.

Tiga hari pelatihan bersama nelayan di Moa benar-benar sangat berkesan. Tugas ini sebenarnya sudah 8 bulan yang lalu. Tapi aku baru sempat merangkai ceritanya sekarang. Antara males dan bingung harus mulai bercerita darimana sih sebenarnya, karena teramat banyak kejadian memorable yang belum pernah dialami dibandingkan ketika tugas ke daerah lainnya. Tentunya di Moa, banyak hal baru, baik ilmu dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Aku yang setiap hari terkoneksi internet dan sering diburu oleh tugas-tugas kantor, sejenak merasakan ketentraman hidup karena nomorku memang tidak ada sinyal sama sekali selama di Moa. Haha

pembagian sertifikat pelatihan untuk nelayan
Semua dokumentasi video-ku selama di Moa, ada di channel ini ya..
Part 1 : Pelatihan Hari 1 Bersama Nelayan (Membuat umpan artificial)
Part 2 : Praktik menangkap Tuna
Part 3 : Hari ke-3, berlatih mengatur keuangan 

Terimakasih orang-orang Moa yang baik hati dan humble. Semoga dikesempatan lain kita dapat berjumpa kembali ya 😊.. Salam Kalwedo!






Comments