#30MapTutorialsChallenge Part 2 : Garis Pantai dan Dinamika Perubahannya

Bicara tentang garis pantai, pada part sebelumnya sudah sedikit disinggung nih kaitannya dengan perairan pesisir. Mengapa garis pantai begitu penting? Karena garis pantai adalah basis batas yang membedakan antara ruang darat dan ruang laut. Kereen yaa, si garis pantai ini..😁

Nah, biar kita gak salah mengartikan garis pantai, kita bisa merujuk ke peraturan perundang-undangan yang sudah ada. So, berdasarkan PermenKP No 23 Tahun 2016 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, di peraturan tersebut dijelaskan bahwa garis pantai adalah batas pertemuan antara bagian laut dan bagian daratan pada saat terjadi air laut pasang tertinggi. Definisi mengenai garis pantai tersebut, menjadi acuan dalam penentuan perencanaan baik di ruang darat maupun di ruang laut.

Lalu, pertanyaannya, gimana sih ketentuannya mendelineasi garis pantai?

Berdasarkan UU Informasi Geospasial No 4 Tahun 2011, garis pantai terbagi mejadi 3 jenis, diantaranya garis pantai pasang tertinggi, garis pantai muka laut rata-rata, dan garis pantai surut terendah. Ketiga jenis garis pantai tersebut dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, seperti misalnya garis pantai pasang tertinggi yang digunakan dalam perencanaan ruang. 

Berdasarkan info dari Badan Informasi Geospasial, ada dua metode yang digunakan untuk menentukan/mendelineasi garis pantai guys, diantaranya:

1. Menggunakan Data Model

Data model untuk pembentukan garis pantai ini dilakukan dengan cara menarik nilai ketinggian tertentu yang diperoleh dari hasil perhitungan pasang surut (penggabungan data elevasi darat dan laut). Kalian udah kenal dengan istilah DEM kan? Yup, Digital Elevation Model ini yang digunakan untuk ekstraksi data sehingga diperoleh nilai perhitungan tertentu yang hasilnya digunakan untuk diklasifikasikan menjadi 3 jenis garis pantai. 

2. Menggunakan Metode Deliniasi 

Metode deliniasi ini dilakukan dengan cara menarik indikasi garis pasang tertinggi berdasarkan kenampakan muka air sesaat yang ada di citra satelit atau foto udara. Metode delineasi ini bisa dilakukan pada kondisi keterbatasan data seperti tidak adanya data survei. Pembentukan garis pantai dengan metode delineasi dilakukan pada data geospasial dasar dua dimensi.

Untuk melakukan metode delineasi ini, ada beberapa ketentuan kriterianya lho. Beberapa kriteria yang diberlakukan pada penentuan garis pantai dengan metode deliniasi, misalnya adalah:

Pada Pantai Mangrove, delineasi dilakukan pada batas vegetasi terluar yang memiliki kerapatan tinggi yang ditunjukan dengan tidak adanya kenampakan objek lain berupa tanah/daratan/lumpur/air/ dan sebagainya di citra satelit atau foto udara. 

Pada pelabuhan/dermaga/bangunan lainnya, deliniasi dilakukan pada batas luar bangunan dimana posisi air terhenti sejajar dengan bangunan. Untuk bangunan yang menggunakan tiang pancang dan keadaan air masih bisa mengalir pada bagian bawah bangunan, tidak bisa dianggap sebagai garis pantai.

Pada pemukiman terapung, deliniasi dilakukan di batas bangunan yang tidak terapung dan memiliki pondasi tetap. 

Pada kawasan pantai yang landai, deliniasi dilakukan pada batas sampah atau bekas jejak air yang tampak pada citra. 

Pada area tebing yang terjal/curam, maka deliniasi dilakukan pada batas tebing terluar. 

Bicara hal lain terkait Garis Pantai, dia ini sifatnya memang dinamis guys, Tergantung dan dipengaruhi oleh faktor alam dan tangan-tangan manusia hehe. Dalam arti, si garis pantai ini dapat berubah seiring dengan perjalanan waktu, entah karena abrasi, sedimentasi, gempa bumi, kenaikan air laut akibat perubahan iklim, penurunan muka tanah, reklamasi dan lain lain.

Nah, kalau misal memang garis pantai itu dinamis, alias berubah-ubah, dan perubahannya cukup signifikan merata setiap satu dekade dengan faktor terntentu yang kontinyu. Apakah laju perubahan garis pantai dapat diukur dan di prediksi? Jawabannya YA! tentu bisa!

Ada beberapa metode yang bisa dilakukan untuk menentukan laju perubahan garis pantai. Dari sekian metode yang bisa digunakan untuk melakukan analisis perubahan garis pantai, ada salah satu metode yang hits banget digunakan oleh peneliti di berbagai jurnal, nama metode tersebut adalah DSAS (Digital Shoreline Analysis System). Di Part 2 #30MapTutorialsChallenge kali ini, saya berkolaborasi dengan teman saya yang pernah menggunakan metode DSAS dalam penelitiannya dan bisa dibilang dia cukup memahami dan berpengalaman😊, karena gak semua orang bisa melakukan analisis pake DSAS guys Hehe. Oiya, nama temanku ini adalah Masaji Faiz Dani Agus Setiani, S.Kel. Sekarang temanku sedang melanjutkan penelitian tesis tentang Marine Spatial Data Infrastructure (MSDI). We had a discussion about DSAS and NSDI a few days ago.

Tutorial metode DSAS sendiri secara gratis bisa diakses di link ini guys DSAS USGS. Jadi, kalian bisa mengikuti dan men-setting tools untuk DSAS pada aplikasi GIS kalian dengan mengunduhnya disanah😁. Mantap to?

Tapi, khusus di web ini, saya dan hasil kolaborasi teman saya, Masaji, bakal menjelaskan gambaran besar langkah pengolahan data dengan DSAS. Beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk melakukan analisis perubahan garis pantai menggunakan metode DSAS diantaranya:

1. Koreksi Radiometrik

Setelah kamu berhasil mengunduh data citra, hal pertama yang harus dilakukan untuk mengolah data tersebut adalah melakukan koreksi radiometrik. Koreksi radiometrik adalah koreksi yang ditujukan untuk memperbaiki nilai piksel supaya sesuai dengan yang seharusnya yang biasanya mempertimbangkan faktor gangguan atmosfer sebagai sumber kesalahan utama. Kenapa efek atmosfer ini berpengaruh? Karena dia itu menyebabkan nilai pantulan obyek di permukaan bumi yang terekam oleh sensor menjadi bukan merupakan nilai aslinya, tetapi justru bisa menjadi lebih besar karena adanya hamburan atau lebih kecil karena proses serapan. Apa sih keuntungannya? Manfaat dari koreksi radiometrik ini bisa memperbaiki kualitas citra lah intinya wkwkw 😁

Koreksi radiometrik sangat bermanfaat banget untuk menganalisis data mutitemporal dan multi sensor yang digunakan untuk interpretasi dan mendeteksi perubahan secara kontinyu. Makanya, penting bangets koreksi radiometrik untuk menganalisis perubahan garis pantai guys, karena citra yang digunakan adalah multitemporal.

2. Menentukan Batas Antara Daratan dan Perairan 

Bahasa sederhananya, di tahap ini kita menggunakan algoritma pemisahan darat dan laut. Ciyee elaah, dipisahin, berantem? wkwk😁. Kalau temanku, Masaji, dia menggunakan metode Modified Normalised Difference Water Index (MNDWI). Aplikasi GIS yang bisa kamu gunakan adalah ENVI. Nah, ada ketentuan nilai gelombang citra yang digunakan di MNDWI inih, karena band yang digunakan pada rumus MNDWI adalah band dengan panjang gelombang 0,52-0,60 mikrometer dan band dengan panjang gelombang 1,55-1,75 mikrometer (Gautam et al., 2015). Nanti kamu tinggal sesuaikan dengan band dari data citra yang digunakan, pake LANDSAT atau SPOT kah, seterah yaak😉

3. Ekstrak Threshold Area

Setelah udah berhasil memisahkan daratan dan lautan dengan MNDWI tadi, didalam tahap ini, secara gampangnya, si area perairan di ekstrak dalam bentuk data vektor untuk nantinya bisa digunakan sebagai bahan tracing garis pantai.

4. Tracing Garis Pantai

Langkah terakhir ini bisa dibilang lebih mudah sih. Karena yang dilakukan adalah hanya dengan mengekstrak data vektor menjadi garis, atau dengan tarcing data vektor hasil threshold area tadi secara manual.

Lalu apa keuntungannya menggunakan metode DSAS? 

Secara teknis, didalam metode DSAS, kita bisa membuat analisis sesuai dengan jarak tertentu yang kita inginkan, misalnya, kita ingin menganalisis perbedaan garis pantai dari tahun A ke tahun B dengan jarak pantai per 5/10 Km. Itu semua bisa diatur guys. Lebihnya, dengan DSAS, kita bisa membuat simulasi prediksi perubahan garis pantai hingga berpuluh-puluh tahun kedepan, dengan catatan misalnya bila di area tersebut tidak ada upaya penanggulangan abrasi.

Okay, segitu dulu kali ya.. 😉

Semoga berfaedah konten ini ya. Kalau ada yang mau tau secara detail step by step bagaimana caranya mengoperasikan DSAS, bisa hubungi teman saya, Masaji ya. Hehe. Dengan catatan, jangan ganggu dirinya kalau sedang sibuk😁


referensi:

Gautam, V. K., Gaurav, P. K., Murugan, P., & Annadurai, M. (2015). Assessment of Surface Water Dynamicsin Bangalore Using WRI, NDWI, MNDWI, Supervised Classification and K-T Transformation. Aquatic Procedia, 4, 739–746. https://doi.org/10.1016/j.aqpro.2015.02.095

Setiani, Masaji Faiz Dani Agus. 2017. Deteksi Perubahan Garis Pantai Menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) di Pesisir Timur Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Skripsi. Program Studi Ilmu Kelautan, Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Dan Kelautan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya.


Comments